Sandaran Hidup Warga Desa Hutan

Radji, petani Pesanggem di Lahan Hutan yang masuk Wilayah Desa Sumber Mulyo, Kecamatan Sale, RembangLahan hutan menjadi sandaran hidup bagi sebagian warga masyarakat desa hutan. Salah satunya adalah adalah para petani pesanggem. Petani pesanggem pada umumnya berasal dari desa-desa sekitar hutan. Mereka mengelola sebagian lahan di kawasan hutan dengan ditanami aneka jenis palawija terutama jagung dan ketela.

Satu di antara sekian banyak petani penggarap adalah Radji (57) warga Desa Sumbermulyo, Kecamatan Sale, Kabupaten Rembang. Saat ditemui di lahan yang digarapnya belum lama ini, Radji bersama sejumlah petani lainya tengah mempersiapkan lahan garapannya untuk masa tanam nanti bila sudah turun hujan.

Bapak tiga anak itu mengaku, menggarap lahan hutan sudah cukup lama dilakukan. Sebelumnya, dia menggarap dilokasi yang agak jauh, menjadi petani penggarap lahan hutan (pesanggem red) ini harus mau berpindah-pindah “Disesuaikan dengan lahan mana yang telah ada tebangan habis,” ujarnya.

Menurutnya, petani pesanggem menggarap lahan secara perorangan. Jangka waktunya rata-rata selama dua tahun. Setelah dua tahun dan jatinya sudah agak tinggi mereka harus pindah kelahan bekas tebangan yang baru, mereka bisa langsung membuka lahan lagi, namun kalau tidak, harus menunggu. “Namanya juga petani penggarap, kalau ada lahan bekas tebangan ya digarap, kalau terlalu jauh ya capek di jalan, kami tidak ambil garapan kalau terlalu jauh,” katanya.

Selama menggarap lahan hutan yang dinamakan persil tersebut, menurut Radji dan para petani penggarap lain tidak dipungut biaya sewa atau bagi hasil tanaman. Hanya, sebelum menggarap di lahan bekas tebangan, harus membuka lahan dan membersihkan sendiri serta tidak boleh dengan cara di bakar. Jadi semua serasah dan rumput harus ditimbun, natinya dapat menjadi humus dan tanah tetap subur, jelasnya.

Selain itu, petani juga harus membantu merawat tanaman jati yang ditanam Perhutani.” Ya kami harus merawat tanaman jatinya,” kata pesanggem lainya.

Hasil Untuk Kebutuhan Sendiri

Radji mengaku, hasil dari garapan di kawasan hutan itu cukup lumayan. Dengan lahan sekitar seperempat hektare, setidaknya bisa menghasilkan bahan makan untuk menghidupi keluarganya. Dia mengaku pernah menanam padi gogo dilahan garapan. Hasil panennya cukup lumayan yaitu sekitar dua belas sak gabah. Setiap satu sak, menjadi 30 kilogram beras.” Lumayan untuk makan sehari-hari, hasilnya untuk kebutuhan sendiri.” Ungkapnya.

Bagaimana dengan kebutuhan yang lain? Radji mengaku, harus mencari tambahan lainya yaitu dengan cara menyempatkan diri mencari rencek atau kayu bakar di hutan sekitar. Setiap hari dia mengaku rata-rata bisa menghasilkan uang Rp 15 ribu rupiah dari hasil menjual rencek.

Uang itulah yang digunakan nafkah keluarga. Karena kesibukannya itu, Radji hampir setiap hari berada dilahan garapannya karena dekat dengan rumah, hal serupa juga dilakukan petani pesanggem lainnya. “Dilahan garapan nanti kalau sudah lelah kami pulang sekalian mencari rencek,” katanya.

Menurut dia, para pesanggem ini adalah petani yang tidak memiliki lahan pertanian sendiri. Sehingga mereka mengandalkan lahan Perhutani untuk bisa bercocok tanam dan menhidupi keluarga. Radji mengaku sudah sejak orang tuanya dulu biasa menggarap persil milik Perhutani Kebonharjo. (Hms Kbh / Djono).