Gunung Lasem, Sumber Penghidupan yang Tetap Terjaga

Hutan Lindung Gunung Lasem dengan luas 2.629 ha, adalah bagian dari Perhutani KPH Kebonharjo, BKPH Gunung Lasem.  Kawasan ini berada di wilayah kecamatan Kragan, Pancur, Lasem dan Sluke Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Tinggi Gunung Lasem dengan puncaknya yang dinamakan Argopuro adalah 806 m dpl. Kondisinya berbatu dan sebagian bertebing yang berbatasan dengan pantai laut Jawa.

Secara umum, kondisi topografi di kawasan lindung Gn Lasem sebagian besar adalah lereng berbukit sampai pegunungan. Jenis tanah terdiri dari asosiasi litosol dan mediteran coklat kemerahan, hanya sekitar Gunung Gondosari merupakan grumosol kelabu tua.

Vegetasi  yang tumbuh dan tersebar adalah jenis yang biasa ditemukan di hutan hujan dataran rendah, termasuk tanaman pengayaan yang sengaja ditanam untuk perlindungan lahan dari erosi. Tegakan sonokeling mendominasi kawasan, di samping jenis lain seperti kemiri, dadap, sengon. Keaneragaman tumbuhan bawah juga cukup melimpah.

Beberapa jenis satwa dapat dijumpai di kawasan ini adalah jenis burung dan mamalia seperti Bubut, Kutilang, Elang hitam, Kepodang, Pelatuk, Ayam hutan, Kutilang emas serta Kera, Lutung, Trenggiling, Musang dan Kijang.

Kearifan Lokal

Berbeda dengan kawasan lindung lainnya, di kawasan ini masyarakat melakukan kegiatan bercocok tanam palawija dan padi gogo dengan sistem tumpang sari. Namun begitu, kelestariannya tetap terjaga karena mereka juga menanam tanaman pokok penghijauan seperti kesambi, mahoni, kepoh, kemiri, johar, sonokeling dan mimbo. Juga tanaman buah-buahan seperti nangka, petai, pisang dan durian.

Ini merupakan bentuk kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Dusun Rakitan, yang berbatasan langsung dengan kawasan lindung. Penduduk dusun yang mayoritas petani dengan jumlah penduduk sekitar 716 Jiwa memiliki persepsi terhadap keberadaan hutan yang cukup tinggi.

Mereka sadar bahwa hutan harus dilindungi dan dilestarikan karena sebagai penyimpan air yang selama ini mereka gunakan untuk keperluan sehari-hari. Kesadaran untuk menjaga hutan tersebut diimplementasikan melalui kesepakatan bersama antara warga dengan Kepala Desa untuk tidak menebang pohon yang ada dalam kawasan hutan.

Gunung Lasem ditetapkan sebagai kawasan lindung didasarkan pada pertimbangan ekologi yaitu topografi areal yang terjal, banyak terdapat jaringan sungai, serta fungsinya sebagai “water catchment.” Air yang berasal dari gunung Lasem merupakan pemasok air utama masyarakat sekitarnya yang secara turun temurun digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari. (Humas Kbh)